Berita

Kuliah Pakar Bersama Kepala DKK Kota Surakarta “Peran Perawat Dalam Penataksanaan Penyakit Tidak Menular Ditatanan Komunitas”

Prodi S1 Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta Menggelar Kuliah pakar dengan tema “Peran Perawat Dalam Penataksanaan Penyakit Tidak Menular Ditatanan Komunitas” pada Jum’at 27, Agustus 2021 dengan nara sumber dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes., MH.,  Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta dengan dilaksanakan secara online dan diikuti sejumlah 150 mahasiswa dan tenaga pendidik..

Cemy Nur Fitriya, S. Kep., Ns., M. Kep. Wakil Rektor I bidang Akademi ITS PKU Muhammadiyah Surakarta menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan Kuliah pakar ini adalah Tersedianya acuan secara berjenjang bagi perawat untuk melakukan perannya dalam penatalaksanaan penyakit tidak menular dikalangan komunitas dan tercapainya kesinambungan penyelenggaraan program.  

Dalam penyampaian materi disampaikan dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes., MH.,  “pada tahun 2016, sekitar 71 persen penyebab kematian di dunia adalah penyakit tidak menular (PTM) yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. Sekitar 80 persen kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. 73% kematian saat ini disebabkan oleh penyakit tidak menular, 35% diantaranya karena penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh penyakit kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% karena diabetes, dan 15% disebabkan oleh PTM lainnya (data WHO, 2018). Keprihatinan terhadap peningkatan prevalensi PTM telah mendorong lahirnya kesepakatan tentang strategi global dalam pencegahan dan pengendalian PTM, khususnya di negara berkembang. PTM telah menjadi isu strategis dalam agenda SDGs 2030 sehingga harus menjadi prioritas pembangunan di setiap negara”.

Indonesia saat ini menghadapi beban ganda penyakit, yaitu penyakit menular dan Penyakit Tidak Menular. Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi antara lain oleh perubahan lingkungan, perilaku masyarakat, transisi demografi, teknologi, ekonomi dan sosial budaya. Peningkatan beban akibat PTM sejalan dengan meningkatnya faktor risiko yang meliputi meningkatnya tekanan darah, gula darah, indeks massa tubuh atau obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok serta alkohol. Program Kemenkes lainnya yang disinergikan dengan program PTM utama adalah pengendalian gangguan indera serta yang berfokus pada gangguan penglihatan dan pendengaran serta gangguan disabilitas. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi gangguan pendengaran secara nasional sebesar 2,6% dan prevalensi ketulian sebesar 0,09%. Hasil survei Rapid Assesment of Avoidable Blindness (RAAB) menunjukkan bahwa prevalensi kebutaan atas usia 50 tahun Indonesia berkisar antara 1,7% sampai dengan 4,4%. Dari seluruh orang yang menderita kebutaan, 77,7% kebutaan disebabkan oleh katarak. Penyebab lain dari kebutaan di Indonesia adalah kelainan di segmen posterior bola mata (6%), glaucoma (2,9%), dan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi (2,3%). Pada prevalensi gangguan pendengaran ditemukan 2,6 % dan ketulian sebesar 0,09 %. Sedangkan pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 disebutkan prevalensi disabilitas pada penduduk umur 18 – 59 tahun sebesar 22%.

Pada sesi tanya jawab seorang mahasiswa bernama bima menanyakan bagaimana arah kebijakan dan strategi ditjen mengenai pelaksanaan penyakit tidak menular?

dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes., MH., menyampaikan “dalam RPJMN, arah kebijakan dan strategi peningkatan pengendalian penyakit sesuai dengan tugas fungsi Ditjen Pecegahan dan Pengendalian Penyakit adalah sebagai berikut :

  1. Peningkatan surveilans epidemiologi faktor resiko dan penyakit; 43 Rencana Aksi Program P2P 2015-2019 (revisi)
  2. Peningkatan upaya preventif dan promotif termasuk pencegahan kasus baru penyakit dalam pengendalian penyakit menular terutama TB, HIV dan malaria dan tidak menular;
  3. Pelayanan kesehatan jiwa;
  4. Pencegahan dan penanggulangan kejadian luar biasa/ wabah;
  5. Penatalaksanaan kasus dan pemutusan rantai penularan;
  6. Peningkatan pengendalian dan promosi penurunan faktor risiko biologi (khususnya darah tinggi, diabetes, obesitas), perilaku (khususnya konsumi buah dan sayur, aktifitas fisik, merokok, alkohol) dan lingkungan;
  7. Peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk pengendalian penyakit h. Pemberdayaan dan peningkatan peran swasta dan masyarakat dalam pengendalian penyakit. (Humas/TG)

Leave A Comment